Kamis, 24 November 2011

GEOMORFOLOGI PULAU JAWA


Dipostkan Oleh : Wenseslaus wedon Nuhan 




BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar belakang masalah

Pada dasarnya perkembangan tektonik dari Pulau Jawa itu tidak jauh berbeda dari Pulau Sumatra yang berada di sebelah barat lautnya. Hal ini dikarenakan pada awal Paleogen, Pulau Jawa dan Sumatra masih berada dalam bagian batas tepi lempeng mikro Sunda dan juga masih berada dalam satu sistem palung busur yang sama, yaitu hasil interaksi konvergen antara lempeng

Australia (Indo-Australia) dengan lempeng Eurasia (lempeng mikroSunda). Ketika Eosen, pulau Jawa bagian utara yang semula berupa daratan,menjadi tergenang oleh air laut dan membentuk cekungan geosinklin. Ketika pertengahan Eosen, terbentang sesar purba dari Jawa hingga ke Meratus yang dikenal dengan Luk-Ulo Meratus. Sesar tersebut membentang ke utara timur membelah laut Jawa sampai bagian tenggara Kalimantan.

Pada kala Oligosen, hampir seluruh pulau jawa mengalami pengangkatan, sehingga menjadi geantklin yang disebut geantklin Jawa.Pada saat itu muncul beberapa gunung api di Jawa bagian selatan. Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api yang bermunculan di bagian selatan membentuk pulau-pulau gunung api. Pada pulau-pulau tersebut terdapat endapan breaksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera. Pada Miosen tengah di sepanjang pulau Jawa bagian selatan, pembentukan gamping koral terus berkembang dengan diselingi batuan vulkanik. Kemudian pada Miosen atas terjadi pengangkatan pada seluruh lengkung Sunda-Bali dan bagian selatan Jawa. Keberadaan pegunungan Jawa bagian selatan ini tetap bertahan sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh batuan kapur yang dibeberapa tempat diselingi oleh munculnya vulkanik atau bentuk intrusi yang lain




2.      Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian dalam latar belakang masalah dapat diambil beberapa rumusan masalah yang akan kami sajikan dalam pembahasan diantaranya:
1.      Geologi di pulau Jawa
2.      Fisiografi dan geomorfologi di pulau Jawa
3.      Jenis-Jenis Tanah di pulau Jawa
4.      Hidrologi di pulau Jawa
5.      Iklim di pulau Jawa
6.      Pengembangan potensi fisik wilayah di pulau Jawa
3.      Tujuan
1.                  Untuk mengetahui tatanan geologi di pulau Jawa
2.                  Untuk mengetahui fisiografi dan geomorfologi di pulau Jawa
3.                  Untuk mengetahui jenis-jenis tanah di pulau Jawa
4.                  Untuk mengetahui hidrologi di pulau Jawa
5.                  Untuk mengetahui iklim di pulau Jawa
6.                  Untuk mengetahui pengembangan potensi fisik wilayah pulau Jawa


















BAB II
PEMBAHASAN

1.      GEOLOGI  PULAU JAWA
Tatanan Tektonik
a.       Tektonik Regional
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara-Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur-Barat (E-W). Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur-Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.
Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebab singkapan batuan pra-Tersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan. Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir.
Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.
Fakta lain yang harus dipahami ialah bahwa akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Penampang stratigrafi yang diberikan oleh Kusumadinata, 1975 dalam Pulunggono, 1994 menunjukkan bahwa ada dua kelompok cekungan yaitu Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa.
Kelompok cekungan Jawa Utara bagian barat mempunyai bentuk geometri memanjang relatif utara-selatan dengan batas cekungan berupa sesar-sesar dengan arah utara selatan dan timur-barat. Sedangkan cekungan yang terdapat di kelompok cekungan Jawa Utara Bagian Timur umumnya mempunyai geometri memanjang timur-barat dengan peran struktur yang berarah timur-barat lebih dominan.
Pada Akhir Cretasius terbentuk zona penunjaman yang terbentuk di daerah Karangsambung menerus hingga Pegunungan Meratus di Kalimantan. Zona ini membentuk struktur kerangka struktur geologi yang berarah timurlaut-baratdaya. Kemudian selama tersier pola ini bergeser sehingga zona penunjaman ini berada di sebelah selatan Pulau Jawa. Pada pola ini struktur yang terbentuk berarah timur-barat.
Tumbukkan antara lempeng Asia dengan lempeng Australia menghasilkan gaya utama kompresi utara-selatan. Gaya ini membentuk pola sesar geser (oblique wrench fault) dengan arah baratlaut-tenggara, yang kurang lebih searah dengan pola pegunungan akhir Cretasisus.
Pada periode Pliosen-Pleistosen arah tegasan utama masih sama, utara-selatan. Aktifitas tektonik periode ini menghasillkan pola struktur naik dan lipatan dengan arah timur-barat yang dapat dikenali di Zona Kendeng.
Volkanisme
Posisi pulau Jawa dalam kerangka tektonik terletak pada batas aktif (zona penunjaman) sementara berdasarkan konfigurasi penunjamannya terletak pada jarak kedalaman 100 km di selatan hingga 400 km di utara zona Benioff. Konfigurasi memberikan empat pola busur atau jalur magmatisme, yang terbentuk sebagai formasi-formasi batuan beku dan volkanik. Empat jalur magmatisme tersebut menurut Soeria Atmadja dkk., 1991 adalah :
a.       Jalur volkanisme Eosen hingga Miosen Tengah, terwujud sebagai Zona Pegunungan Selatan.
b.      Jalur volkanisme Miosen Atas hingga Pliosen. Terletak di sebelah utara jalur Pegnungan Selatan. Berupa intrusi lava dan batuan beku.
c.       Jalur volkanisme Kuarter Busur Samudera yang terdiri dari sederetan gunungapi aktif.
d.      Jalur volkanisme Kuarter Busur Belakang, jalur ini ditempati oleh sejumlah gunungapi yang berumur Kuarter yang terletak di belakang busur volkanik aktif sekarang.
Magmatisme Pra Tersier
Batuan Pra-Tersier di pulau Jawa hanya tersingkap di Ciletuh, Karang Sambung dan Bayat. Dari ketiga tempat tersebut, batuan yang dapat dijumpai umumnya batuan beku dan batuan metamorf. Sementara itu, batuan yang menunjukkan aktifitas magmatisme terdiri atas batuan asal kerak samudra seperti, peridotite, gabbro, diabase, basalt toleit. Batuan-batuan ini sebagian telah menjadi batuan metamorf.
Magmatisme Eosen
Data-data yang menunjukkan adanya aktifitas magmatisme pada Eosen ialah adanya Formasi Jatibarang di bagian utara Jawa Barat, dike basaltik yang memotong Formasi Karang Sambung di daerah Kebumen Utara, batuan berumur Eosen di Bayat dan lava bantal basaltik di sungai Grindulu Pacitan. Formasi Jatibarang merupakan batuan volkanik yang dapat dijumpai di setiap sumur pemboran. Ketebalan Formasi Jatibarang kurang lebih 1200 meter. Sementara di daerah Jawa Tengah dapat ditemui di Gunung Bujil yang berupa dike basaltik yang memotong Formasi Karang Sambung, di Bayat dapat ditemui di kompleks Perbukitan Jiwo berupa dike basaltik dan stok gabroik yang memotong sekis kristalin dan Formasi Gamping-Wungkal.
Magmatisme Oligosen-Miosen Tengah
Pulau Jawa terentuk oleh rangkaian gunungapi yang berumur Oligosen-Miosen Tengah dan Pliosen-Kuarter. Batuan penyusun terdiri atas batuan volkanik berupa breksi piroklastik,breksi laharik, lava, batupasir volkanik tufa yang terendapkan dalam lingkungan darat dan laut. Pembentukan deretan gunungapi berkaitan erat dengan penunjaman lempeng samudra Hindia pada akhir Paleogen. Menurut Van Bemmelen (1970) salah satu produk aktivitas volkanik saat itu adalah Formasi Andesit Tua.
Magmatisme Miosen Atas-Pliosen
Posisi jalus magmatisme pada periode ini berada di sebelah utara jalur magmatisme periode Oligosen-Miosen Tengah. Pada periode in aktivitas magmatisme tidak terekspresikan dalam bentuk munculnya gunungapi, tetapi berupa intrusi-intrusi seperti dike, sill dan volkanik neck. Batuannya berkomposisi andesitik.
Magmatisme Kuarter
Pada periode aktifitas kuarter ini magmatisme muncul sebagai kerucut-kerucut gunungapi. Ada dua jalur rangkaian gunungapi yaitu : jalur utama terletak di tengah pulau Jawa atau pada jalur utama dan jalur belakang busur. Gunungapi pada jalur utama ersusun oleh batuan volkanik tipe toleitik, kalk alkali dan kalk alkali kaya potasium. Sedangkan batuan volkanik yan terletak di belakan busur utama berkomposisi shoshonitik dan ultra potasik dengan kandungan leusit.
Magmatisme Belakang Busur Gunung Ungaran merupakan magmatisme belakang busur yang terletak di Kota Ungaran, Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 2050 meter di atas permukaan laut. Secara geologis, Gunung Ungaran terletak di atas batuan yan tergabung dalam Formasi batuan tersier dalam Cekungan Serayu Utara di bagian barat dan Cekungan Kendeng di bagian utara-timur. Gunung Ungaran merupakan rangkaian paling utara dari deretan gunungapi (volcanic lineament) Gunung Merapi-Gunung Merbabu-Gunung Ungaran. Beberapa peneliti menyatakan bahwa fenomena itu berkaitan dengan adanya patahan besar yan berarah utara-selatan.
Komposisi batuan yang terdapat di Gunung Ungaran cukup bervariasi, terdiri dari basal yang mengandung olivin, andesit piroksen, andesit hornblende dan dijumpai juga gabro. Pada perkembangannya, Gunung Ungaran mengalami dua kali pertumbuhan, mulanya menghasilkan batuan volkanik tipe basalt andesit pada kala Pleistosen Bawah. Perkembangan selanjutnya pada Kala Pleistosen Tengah berubah menjadi cenderung bersifat andesit untuk kemudian roboh. Pertumbuhan kedua mulai lagi pada Kala Pleistosen Atas dan Holosen yang menghasilkan Gunung Ungaran kedua dan ketiga. Saat ini Gunung Ungaran dalam kondisi dormant.
b.      Tatanan Tektonik Daerah Ungaran
Gunung Ungaran selama perkembangannya mengalami ambrolan-tektonik yang diakibatkan oleh pergeseran gaya berat karena dasarnya yang lemah (Gambar 2.3 dan 2.4). Gunung Ungaran tersebut memperlihatkan dua angkatan pertumbuhan yang dipisahkan oleh dua kali robohan (Zen dkk., 1983). Ungaran pertama menghasilkan batuan andesit di Kala Pliosen Bawah, di Pliosen Tengah hasilnya lebih bersifat andesit dan berakhir dengan robohan. Daur kedua mulai di Kala Pliosen Atas dan Holosen. Kegiatan tersebut menghasilkan daur ungaran kedua dan ketiga.
Struktur geologi daerah Ungaran dikontrol oleh struktur runtuhan (collapse structure) yang memanjang dari barat hingga tenggara dari Ungaran. Batuan volkanik penyusun pre-caldera dikontrol oleh sistem sesar yang berarah barat laut-barat daya dan tenggara-barat daya, sedangkan batuan volkanik penyusun post-caldera hanya terdapat sedikit struktur dimana struktur ini dikontrol oleh sistem sesar regional (Budiardjo et al. 1997).
Struktur geologi daerah Ungaran dikontrol oleh struktur runtuhan (collapse structure
Blok diagram struktur volkano-tektonik Ungaran Tua (akhir Pleistosen). (Bemmelen,1943 vide Bemmelen, 1970 dengan perubahan)


2.      FISIOGRAFI DAN GEOMORFOLOGI PULAU JAWA

A.    Fisiografi
Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian utama (Bemmelen, 1970) yaitu:
§  Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat)
§  Jawa Tengah (antara Cirebon dan Semarang)
§  Jawa Timur (antara Semarang dan Surabaya)
§  Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 – 120 km.
Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat.
Pegunungan Serayu Utara memiliki luas 30-50 km, pada bagian barat dibatasi oleh Gunung Slamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan gunung api muda dari Gunung Rogojembangan, Gunung Prahu dan Gunung Ungaran.
Gunung Ungaran merupakan gunung api kuarter yang menjadi bagian paling timur dari Pegunungan Serayu Utara. Daerah Gunung Ungaran ini di sebelah utara berbatasan dengan dataran aluvial Jawa bagian utara, di bagian selatan merupakan jalur gunung api Kuarter (Sindoro, Sumbing, Telomoyo, Merbabu), sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Pegunungan Kendeng (Gambar 2.1). Bagian utara Pulau Jawa ini merupakan geosinklin yang memanjang dari barat ke timur (Bemmelen, 1970).
ketsa fisiografi Pulau Jawa bagian tengah (Bemmelen,1943 vide Bemmelen, 1970, dengan modifikasi)

B.      Stratigrafi Regional
Secara lebih rinci, fisiografi Pegunungan Serayu Utara dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian barat (Bumiayu), bagian tengah (Karangkobar) dan bagian timur (Ungaran). Dalam Bemmelen (1970) diuraikan bahwa stratigrafi regional Pegunungan Serayu Utara bagian timur (Gunung Ungaran dan sekitarnya) dari yang tertua adalah sebagai berikut:
a)      Lutut Beds Endapan ini berupa konglomerat dan batugamping dengan fosil berupa Spiroclypeus, Eulipidina, Miogypsina dengan penyebaran yang sempit. Endapan ini menutupi endapan Eosen yang ada di bawahnya.endapan ini berumur Oligo-Miosen.
b)      Merawu Beds Endapan ini merupakan endapan flysch yang berupa perselangselingan lempung serpihan, batupasir kuarsa dan batupasir tufaan dengan fosil Lepidocyclina dan Cycloclypeus. Endapan ini berumur Miosen Bawah.
c)      Panjatan Beds Endapan ini berupa lempung serpihan yang relatif tebal dengan kandungan fosil Trypliolepidina rutteni, Nephrolepidina ferreroi PROV., N. Angulosa Prov., Cycloclypeus sp., Radiocyclocypeus TAN., Miogypsina thecideae formis RUTTEN. Fosil yang ada menunjukkan Miosen Tengah.
d)     Banyak Beds Endapan ini berupa batu pasir tufaan yang diendapkan pada Miosen Atas.
e)      Cipluk Beds Endapan ini berada di atas Banyak Beds yang berupa napal yang berumur Miosen Atas.
f)       Kapung Limestone Batu gamping tersebut diendapkan pada Pliosen Bawah dengan dijumpainya fosil Trybliolepidina dan Clavilithes sp. Namun fosil ini kelimpahannya sangat sedikit.
g)      Kalibluk Beds Endapan ini berupa lempung serpihan dan batupasir yang mengandung moluska yang mencirikan fauna cheribonian yang berumur Pliosen Tengah.
h)      Damar Series Endapan ini merupakan endapan yang terbentuk pada lingkungan transisi. Endapan yang ada berupa tuffaceous marls dan batupasir tufaan yang mengandung fosil gigi Rhinocerous, yang mencirikan Pleistosen awal-Tengah.
i)        Notopuro Breccias Endapan ini berupa breksi vulkanik yang menutupi secara tidak selaras di atas endapan Damar Series. Endapan ini terbentuk pada Pleistosen Atas.
j)        Alluvial dan endapan Ungaran Muda Endapan ini merupakan endapan alluvial yang dihasilkan oleh proses erosi yang terus berlangsung sampai saat ini (Holosen). Selain itu juga dijumpai endapan breksi andesit yang merupakan produk dari Gunung Ungaran Muda. Menurut Budiardjo et. al. (1997), stratigrafi daerah.Ungaran dari yang tua ke yang muda adalah sebagai berikut:
1.      Batugamping volkanik
2.      Breksi volkanik III
3.      Batupasir volkanik
4.      Batulempung volkanik
5.      Lava andesitic
6.      Andesit porfiritik
7.      Breksi volkanik II
8.      Breksi volkanik I
9.      Andesit porfiritik
10.  Lava andesit
11.  .Aluvium
Peta geologi regional daerah Ungaran (Budiardjo, et. al., 1997)
Peta Ungaran fault System dan antiklinorium utara Candi (Bemmelen, 1943 vide Bemmelen, 1970 dengan perubahan


3.       JENIS-JENIS TANAH DI PULAU JAWA

1.      Tanah Vulkanis
Ciri-cirinya :
§  Butir tanahnya halus hingga menyerupai abu
§  Tidak mudah terbang bila ditiup angin
§  Tanahnya sangat subur
§  Banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan
§  Pulau Jawa merupakan letak terbanyak gunung berapi di Indonesia
§  Tersebar di bagian tengah dan selatan Pulau Jawa

2.      Tanah Aluvial
Ciri-cirinya :
§  Tanahnya sangat subur
§  Terbentuk dari hasil endapan di tempat yg lebih rendah
§  Banyak terdapat di lembah aliran sungai dan dataran rendah
§  Daerah ini merupakan lumbung-lumbung beras di tanah air
§  Dimanfaatkan sebagai daerah  pertanian tanaman padi
§  Tersebar di bagian utara Pulau Jawa

3.      Tanah Humus
Ciri-cirinya :
§  Tanahnya sangat subur
§  Berasal dr pembusukan tumbuhan
§  Terdapat di bag. Atas dr tanah pada hutan-hutan lebat
§  Berasal dari pembusukan-pembusukan tumbuhan



4.      HIDROLOGI PULAU JAWA

Pola hidrologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional adalah pola aliran  paralel dimana terdapat penjajaran mata air dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di kawasan kars Sukolilo Pati dan kawasan kars Grobogan dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau karst spring dengan tipe mata air kars rekahan (fracture springs). Terbentuknya mata air rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan.
Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh. Pada zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air  yang bermunculan di bagian pemukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar kawasan kars Pati dan Grobogan.
Dalam kawasan kars Kendeng Utara ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Sukolilo Pati (Kendeng Utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artinya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1.009 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7.882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo, dari 18 sumber air yang ada di Kecamatan Tawangharjo mencapai debit 462,796 lt/dtk dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 5.000 KK yang ada di Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan.
 Gambar 4. Peta Penyebaran Gua dan Sumber Air di Kawasan Kars Kendeng Utara

5.      IKLIM DI PULAU JAWA
Seperti daerah lain di pulau tropis, Jawa iklim Indonesia memiliki dua musim: musim hujan (selama bulan Oktober-April) dan musim kemarau (selama Mei-September). Musim kemarau adalah waktu terbaik jika Anda ingin mengunjungi pulau ini. Bulan-bulan terbasah adalah antara Januari-Februari. Jawa Barat dari daerah basah Timur dan daerah pegunungan menerima curah hujan lebih tinggi. Dataran tinggi Parahyangan Jawa Barat menerima lebih dari 4.000 mm per tahun, sedangkan pantai utara Jawa Timur menerima 900 mm per tahun.
Suhu rata-rata Jawa Indonesia mulai dari 22 ° C sampai 29 ° C atau 71,6 ° -84,2 tentang ° F. Rata-rata kelembaban cuaca Indonesia Jawa adalah 75%. Daerah utara yang lebih panas dari tengah-tengah Pulau, rata-rata 34 ° C di musim kemarau. Daerah selatan biasanya lebih dingin dari wilayah utara.
Khusus wilayah Jakarta memiliki puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari dengan curah hujan 350 milimeter. Suhu rata-rata adalah Jakarta 27 ° C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, saat itulah Jakarta dibanjiri, dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter. Pada bulan September dan awal Oktober adalah hari terpanas di Jakata, suhu bisa mencapai 40 ° C (104 ° F). Iklim di Banten dan Jawa Barat daerah sangat dipengaruhi oleh Monson
Perdagangan dan gelombang La Nina atau El Nino. Ketika musim hujan cuaca didominasi oleh Angin Barat (dari Sumatera dan Samudera India yang bergabung dengan angin dari Asia melalui Laut Cina Selatan), cuaca didominasi oleh angin Timur yang menyebabkan harshed Banten, khususnya di pantai utara, bahkan lebih sehingga ketika El Nino terakhir. Suhu di daerah pesisir berkisar antara 22 ° C dan 32 ° C, sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian antara 400-1.350 m di atas permukaan laut antara 18 ° C-29 ° C. Curah hujan tertinggi Provinsi Banten mulai dari 2712-3670 mm pada musim hujan. Pada musim kemarau, curah hujan 615-833 mm tertinggi pada bulan April-Desember sedangkan curah huJawa Barat mungkin memiliki suhu 9 ° C (48,2 ° F) di puncak Gunung Pangrango dan 34 ° C (93,2 ° F) di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun.
Wilayah Jawa Tengah memiliki curah hujan tahunan rata-rata 2.000 mm per tahun, dan suhu rata-rata 21-32 ° C (sekitar 69,8 ° -89,6 ° F). Daerah dengan curah hujan tinggi terutama berlokasi di Nusakambangan pulau (selatan Jawa), dan sepanjang Pegunungan Serayu. Daerah dengan curah hujan rendah dan sering kekeringan di musim kering Blora dan daerah sekitarnya serta di bagian selatan Wonogiri.
Dibandingkan dengan wilayah barat Jawa, Jawa Timur memiliki curah hujan kurang. Curah hujan rata-rata 1900 mm per tahun, dengan musim hujan selama 100 hari. Suhu rata-rata berkisar antara 21-34 ° C (sekitar 69,8 ° -93,2 ° F). Suhu di daerah pegunungan lebih rendah, dan bahkan di daerah Ranu Pani (lereng Gunung Semeru), suhu bisa mencapai minus 4 ° C atau 24,8 ° F, yang menyebabkan hujan salju yang lembut. jan terendah di kering 360-486 mm bulan Juni sampai September.


6.      PENGEMBANGAN POTENSI FISIK WILAYAH
Pulau Jawa yang termasuk dalam kelompok Kawasan Telah Berkembang di Indonesia, merupakan wilayah dengan perkembangan perekonomian yang sangat pesat dan potensial, dimana Pulau Jawa memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar. Namun dalam kenyataannya, tidak seluruh daerah di Pulau Jawa menunjukkan perkembangan yang sama. Secara fisik kawasan utara Pulau
Setiap pulau tentu memiliki sumber daya alam, kekayaan alam, dan corak serta tipe daerah yang berbeda. Karena hal tersebut peta perekonomian di setiap daerah pun berbeda.
Seperti halnya pulau jawa, salah satu pulau terbesar di Indonesia ini terbagi menjadi 3 wilayah, yaitu: Jawa tengah, Jawa barat dan Jawa timur. Walau berada dalam 1 pulau, masing-masing wilayah tersebut memiliki mata pencaharian yang berbeda sebagai investasi dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
1. Jawa tengah
Jumlah penduduk sekitar 32.380.687 jiwa, terdiri dari 16.081.140 laki-laki dan 16.299.547 perempuan, dengan persentase pertumbuhan penduduk sebesar 0,67% pertahun.
Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa tengah. Dimana hampir separuh dari jumlah angkatan kerja terserap di sektor pertanian. Dari jumlah penduduk, 47% diantaranya merupakan angkatan kerja. Mata pencahariannya adalah pertanian (42.34%), diikuti perdagangan (20,91%), industri (15,71%) dan jasa (10,98).
2. Jawa Barat
Jumlah penduduk sekitar 37.548.565 jiwa, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 2,14% pertahun. Jawa barat memiliki tenaga pekerja berpendidikan sebanyak 15,7juta jiwa atau 18% dari jumlah nasional. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor jasa (29%) Provinsi ini menyumbang hampir 1/4 dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non migas, Ekspor utama tekstil sekitar 55,45% dari total ekspor Jawa barat.


3. Jawa timur
Dengan luas wilayah 47.922 km² Jawa timur memiliki jumlah penduduk sebesar 37.070.731 jiwa, dengan tingkat pertumbuhan 0,59% pertahun. Kota dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Surabaya yang merupakan ibukota provinsi. Mata pencaharian masyarakat Jawa timur umumnya di bidang Perindustrian, Pertambangan dan Energi.
Jawa timur dikenal sebagai pusat kawasan timur Indonesia dan memiliki signifikansi perekonomian yang cukup tinggi, yakni 14,85% terhadap produk domestik bruto nasional. Jawa timur memiliki sejumlah industri besar, diantaranya adalah galangan pembuatan kapal terbesar, Industri kereta api, pabrik kertas serta pabrik rokok.
Jawa lebih berkembang dibanding dengan kawasan selatan. Kondisi infrastruktur jalan di kawasan Utara Jawa seperti Jalur Pantura telah mampu mengangkat roda perekonomian, aktivitas sosial, dan mobilitas warga masyarakat, sedangkan akibat keterbatasan infrastruktur jalan di  kawasan  selatan Jawa, perkembangan wilayah dan tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah bahkan banyak ditemui daerah-daerah terisolir. Hal ini terbukti dengan adanya kota-kota di kawasan utara yang lebih berkembang, seperti Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan lain-lain. Selain itu persentase nilai PDRB per kapita wilayah Jawa bagian utara jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bagian selatan. Rata-rata semua sektor ekonomi di wilayah Jawa bagian selatan mempunyai kontribusi yang sangat kecil, dengan prosentase antara 0-13%.
Sebenarnya, wilayah Jawa bagian selatan mempunyai potensi sumberdaya alam yang besar, selain memiliki tanah yang subur, sumber-sumber tambang,  pariwisata,  juga kaya akan  sumberdaya laut. Berbagai potensi  tersebut  sangat memungkinkan untuk dilakukan pengembangan yang lebih optimal. Potensi utama ini juga dapat dilihat secara nyata pada persentase nilai PDRB perkapita wilayah Jawa bagian selatan. Sektor pertanian memberikan kontibusi cukup besar pada nilai PDRB per kapita provinsi yang mencapai 35-50%. Selain itu, terdapat potensi di bidang pariwisata terutama wisata alam, dengan kontribusi terhadap nilai PDRB per kapita provinsi sebesar 18-22%. Kekayaan dan potensi yang melimpah tersebut tentu merupakan suatu faktor strategis yang mampu mendorong kemajuan wilayah Jawa bagian selatan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat wilayah tersebut jika dikembangkan secara optimal dengan dukungan infrastruktur ekonomi dan sosial yang memadai. Berikut gambaran potensi yang terdapat di beberapa wilayah Pulau Jawa bagian selatan.
Sebagai upaya menyeimbangkan pertumbuhan kawasan pantai utara Pulau Jawa dan pantai selatan Pulau Jawa serta untuk menghadapi tantangan kepadatan jalur pantura Jawa salah satunya adalah dengan pembangunan infrastruktur.  Salah satu infrastruktur yang harus dibangun adalah  berupa  jalan dan jembatan. Mengapa? Karena jalan dan jembatan adalah prasarana yang dapat menjadi urat nadi dalam mengembangkan suatu wilayah sekaligus sebagai pembentuk struktur ruang wilayah. Terkait dengan hal ini, upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan pembangunan dan peningkatan prasarana jalan lintas di selatan Pulau Jawa.  Sesuai dengan kebijakan pengembangan infrastruktur, salah satu  fungsi pembangunan jaringan jalan lintas selatan Pulau Jawa adalah untuk menjamin kelancaran pergerakan barang dari kawasan produksi menuju tujuan pemasaran maupun pergerakan orang antar pusat-pusat permukiman.
Jalan lintas selatan Pulau Jawa direncanakan untuk mengubungkan 5 provinsi di Pulau Jawa, yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, yang dimulai dari Labuan (Banten) hingga Banyuwangi (Jawa Timur) sepanjang 1.556 km, dengan panjang pada masing-masing provinsi adalah Banten 128 km, Jawa Barat 419 km, Jawa Tengah 190 km, Daerah Istimewa Yogyakarta 157 km, dan Jawa Timur sepanjang 662 km. Langkah awal pembangunan jalan lintas selatan Pulau Jawa telah dimulai pada tahun 1997-1998 dengan dilakukan pra-feasibility study. Dilanjutkan dengan feasibility study pada tahun 2000-2001,  kemudian studi AMDAL pada tahun 2002,  serta  desain  dan pelaksanaan konstruksi pada tahun 2002-2007. Sebenarnya selama ini di wilayah selatan Jawa telah dibangun jalan kabupaten dan propinsi, dimana investasi oleh masing-masing daerah cukup besar, namun tetap belum cukup memadai untuk membuka isolasi potensi yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya. Dengan dibangunnya jaringan jalan lintas selatan yang berkelas jalan nasional dengan fungsi arteri primer selebar 24 meter dan merupakan jaringan jalan yang menghubungkan seluruh.
Pulau Jawa bagian selatan ini, setidaknya masalah aksesibilitas sudah terpecahkan. Dapat dikatakan bahwa pembangunan jalan lintas selatan ini tidak hanya untuk memudahkan transportasi dari arah barat ke timur dan sebaliknya, tetapi yang terpenting untuk meningkatkan kesejahteraan  jutaan  penduduk di kawasan Pulau Jawa bagian selatan. Penetapan rute berawal dari hasil Detail Engineering Design dari perencana yang selanjutnya dilakukan peninjauan lokasi bersama-sama antara pemerintah provinsi dengan masing-masing pemerintah kabupaten dan dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Hasil pertemuan tersebut diintegrasikan dengan studi jaringan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, yaitu studi Java Arterial Road Network (JARN). Selanjutnya dari hasil tersebut ditetapkan rute jalan lintas selatan Pulau Jawa yang dari segi pendanaan melalui sharing pemerintah pusat yang lebih proporsional.Saat ini,  Saat ini kondisi eksisting jalan lintas selatan Pulau Jawa belum sepenuhnya berfungsi. Selain karena kondisi permukaan jalan yang buruk juga karena adanya beberapa jembatan penghubung yang belum selesai dibuat di beberapa ruas jalan. Contoh kasus di Provinsi Jawa Barat, jalan lintas selatan di Provinsi Jawa Barat melewati 5 Kabupaten, yaitu Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Kondisi eksisting jalan walau sebagian besar telah diaspal, namun terdapat ruas jalan dalam keadaan masih dalam tahap pengerasan maupun rusak di beberapa bagian. Di wilayah Kabupaten Cianjur, masih terdapat jembatan yang belum selesai dibangun sehingga menyebabkan jalan lintas selatan terputus. Selain itu, kondisi wilayah selatan Jawa yang relatif berbukit-bukit cukup menyulitkan untuk pembangunan jalan dengan kontur datar. Jalur lintas selatan Pulau Jawa yang nantinya diharapkan menjadi bagian dari jaringan jalan lintas Jawa dan menjadi akses utama selain jalur lintas utara, tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada, antara lain kondisi fisik atau kontur selatan Pulau Jawa yang berat, keterbatasan dana, pengadaan lahan, dan juga masalah kontrak tahunan.
Kondisi fisik atau kontur daerah pantai selatan yg berat dalam hal ini adalah ruas jalan lintas yang sebagian besar melalui gunung, tebing, maupun jurang sehingga harus ditangani dengan konstruksi yang kuat terhadap ancaman longsoran dan landslide. Contoh kasus di Provinsi Jawa Barat, yaitu masih banyaknya jalan yang berbatu atau tidak layak untuk dilewati  yakni di sepanjang jalur lintas selatan. Jalur penghubung (link junction) yang menghubungkan jalur utara dengan selatan juga belum memadai, dengan kondisi wilayahnya sebagian besar pegunungan yang berbukit-bukit. Kualitas jalannya hanya  setingkat jalan kabupaten dan desa, dengan lebar kurang lebih 5 meter. Sementara kondisi di samping sampingnya bukit dan jurang.
Kendala lain yang berhubungan dengan kondisi fisik adalah contoh kasus di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada link 7 di Yogyakarta, pembangunan jembatan merupakan hal yang penting dalam kesinambungan jaringan  jalan atau koridor. Link 7  membutuhkan jembatan penghubung yang dekat dengan laut dengan panjang 600 meter. Kendala berikutnya adalah keterbatasan dana, yang dapat dibagi ke dalam dua masalah. Pertama adalah masalah desain. Keterbatasan dana yang ada telah mengakibatkan dalam pembangunan jalan lintas selatan ini adalah alignment yang lebih memprioritaskan daripada kajian teknik berupa aspek geologis, drainase, dan lain-lain. Padahal kedua hal ini sebenarnya sama pentingnya dan tidak bisa terpisahkan satu sama lain.
Masalah kedua adalah konstruksi. Dana konstruksi untuk total jalan sepanjang 1.556 km yang melibatkan banyak kabupaten dengan jumlah yang terbatas harus dialokasikan ke semua kabupaten, sehingga dana menjadi kecil diterima setiap kabupaten. Kendala ketiga adalah tentang pengadaan lahan. Salah satu kendala pengadaan lahan terletak dalam hal pembebasan lahan. Pembebasan lahan adalah salah satu masalah terumit dalam pembangunan jalan, termasuk pembangunan jalan lintas selatan Pulau Jawa ini.
Sebagian besar lahan yang akan terambil sebagai ruas jalan adalah kepunyaan penduduk setempat. Oleh karena itu pembebasan lahan harus melalui negosiasi yang cukup pelik antara pemerintah dengan masyarakat, antara lain dengan memberikan ganti rugi yang sesuai dan juga pemahaman bahwa pembangunan jalan lintas selatan ini juga akan berpengaruh positif  bagi  kesejahteraan  penduduk  sekitar.  Selain milik perseorangan atau penduduk setempat, kepemilikan lahan yang akan digunakan sebagai jalan lintas selatan juga sebagian adalah lahan hutan. Tidak kalah rumitnya, untuk penggunaan lahan perhutani, terlebih dahulu harus melewati mekanisme pinjam-pakai dengan kompensasi 1:1 sesuai Permen Kehutanan No: P.14/Menhut-II/2006, serta memenuhi beberapa persyaratan antara lain desain, studi AMDAL, kesanggupan kompensasi lahan, dan lain-lain.Kendala terakhir adalah kontrak tahunan.Kontrak tahunan memberikan dampak negatif dalam hal kehilangan waktu dan ketidakefisienan akibat proses pengadaan, sehingga perlu pemeliharaan jalan yang belum selesai.
Dari berbagai hal yang sudah dijelaskan diatas berkaitan dengan jalan lintas selatan Pulau Jawa, memang memerlukan suatu proses yang panjang serta upaya yang keras untuk jalan lintas selatan Pulau Jawa selesai dibangun. Satu hal yang terpenting adalah pembangunan ini harus tetap berkiblat pada peraturan tata ruang sehingga nantinya diharapkan ke depannya jalan lintas selatan ini akan menjadi jaringan jalan yang benar-benar memperhatikan kaidah teknis dan pembangunan berkelanjutan, sehingga benar-benar dapat meningkatkan perekonomian wilayah selatan Pulau Jawa. Seyogyanya, pembangunan jalan lintas selatan Pulau Jawa difokuskan pada percepatan untuk dapat dimanfaatkannya jalan tersebut oleh masyarakat, walaupun untuk lalu lintas ringan. Akhir kata, saat ini kita hanya bisa sabar menunggu kapan jalur lintas selatan Pulau Jawa itu menjadi kenyataan.
Pulau Jawa adalah pulau terpadat di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Luas Pulau Jawa 6,9 persen luas daratan seluruh Indonesia. Namun, jumlah penduduknya 60 persen dari penduduk Indonesia. Jacub Rais. Menurut data resmi Bakosurtanal, luas Pulau Jawa adalah 132.187 km persegi dan luas total daratan Indonesia adalah 1.919.443 km persegi.
Jumlah penduduk di Pulau Jawa pada tahun 1990, menurut Agenda 21 Indonesia yang diterbitkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup 1997, adalah 107.515.322 jiwa dari jumlah total penduduk Indonesia pada tahun tersebut sebanyak 179.243.375 jiwa, atau 60 persen penduduk Indonesia hidup di Pulau Jawa. Ini berarti kepadatan penduduk di Jawa adalah 813 orang per km persegi. Kepadatan penduduk di Pulau Jawa ini sebenarnya juga sudah terjadi sejak Gubernur Jenderal Thomas Raffles (1820-1830) dalam tulisannya pada 1826, The History of Java, Volume I, halaman 68-72, yang mengatakan bahwa 60 persen penduduk Indonesia hidup di Pulau Jawa yang merupakan 6,95 persen dari luas daratan Indonesia. Rasio ini tidak berubah sejak tahun 1920 ketika penduduk Pulau Jawa hanya 34,4 juta, yang kemudian berkembang menjadi 41,7 juta (1930), 48,4 juta (1940), dan 60 juta (1950).
Prediksi dalam Agenda 21 Indonesia, pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 254.214.909 jiwa dan penduduk Pulau Jawa akan berkembang menjadi 144.214.909 jiwa atau kepadatan penduduk menjadi 1091 orang per km persegi. Ini berarti 57,7 persen penduduk Indonesia hidup di 6,9 persen lahan daratan. Kita juga tahu bahwa tidak semua daratan dapat digunakan karena berupa gunung dan bukit yang ditutupi hutan lindung, atau topografi terjal yang tidak dapat dimanfaatkan, bahkan sebagian besar harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan hidrologis.
Masalah kota Jakarta dengan jumlah penduduk pada siang hari katanya sekitar 11,4 juta pada tahun 2001 telah makin membuat kesemrawutan lalu lintas, penduduk yang mendiami bantaran sungai, kolong jembatan, masalah jalur hijau, pedagang kaki lima, masalah banjir yang kronis, masalah kesehatan, dan lain-lain. Menurut prediksi, kota Jakarta yang berpenduduk lebih dari 10 juta ini pada tahun 2015 akan mencapai 17,3 juta penduduknya. Bagaimana mengatasinya?
Dari rasio penduduk terhadap ketersediaan lahan yang makin kecil, Pulau Jawa sampai tahun 2020 akan terus-menerus menghadapi degradasi lingkungan, seperti ketidakseimbangan hidrologis (keterbatasan tersedianya air, banjir, longsor), lingkungan hidup makin kumuh di bantaran-bantaran sungai, pantai, dan urbanisasi semakin meningkat karena kehidupan di tanah-tanah pertanian tidak memberi harapan yang baik, meningkatnya konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian (perumahan, industri, pusat-pusat jasa), meningkatnya konsumsi beras dengan bertambahnya penduduk sedangkan luas lahan pertanian tidak berubah, malah berkurang juga meningkatnya aspek sampingan dari kepadatan dan kemiskinan penduduk, seperti kesehatan, kriminalitas, dan pengangguran.
Dalam prediksi Agenda 21 Indonesia, kebutuhan beras akan meningkat dari 27,2 juta ton pada 1992 menjadi 45,1 juta ton pada 2018. Ini memerlukan pembukaan lahan sawah baru sebesar 11,2 juta hektar (di luar Jawa) pada 2018 jika ingin mempertahankan swasembada beras.
Perambahan hutan telah terjadi dengan laju yang menakutkan akibat kebutuhan lahan bagi penduduk setempat maupun pendatang untuk tempat hidup dan berladang. Keadaan ini mempunyai dampak terhadap meningkatnya laju erosi dan tingkat sedimentasi yang ditranspor melalui sungai-sungai sehingga hampir semua sungai besar di Pulau Jawa tercemar oleh sedimen, ditambah dengan sisa-sisa nutrien dan polutan dari sumber-sumber point and non-point sources yang berada di sekitar sungai (permukiman, industri, pertanian, peternakan, dan sebagainya). Sedimen, polutan, dan nutrien yang mengalir di sungai akan menurunkan kualitas air sehingga menurunkan pula daya dukungnya terhadap biota laut di daerah-daerah estuaria, lahan basah, delta di daerah hilir.
Ada ancaman lain yang datangnya dari luar (di luar kehendak manusia), seperti proses-proses endogenetik (dari dalam tubuh Bumi) dan eksogenetik (dari luar tubuh Bumi, seperti dari atmosfer dan hidrosfer)
Ada dua hal yang harus dilakukan di Pulau Jawa dalam jangka menengah, yaitu:
a)      Masalah sampah
·         Sampah adalah produk dari kehidupan dan pembangunan.
·         Memerlukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
·         Menjadikan sampah dari gangguan (nuisance) menjadi potential resources. Perlu program nasional untuk itu.
b)      Masalah Penataan Ruang
·         Penataan ruang Pulau Jawa secara sinergis antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan provinsi-provinsi luar Jawa. Terapkan Penataan Ruang Darat-Laut Terpadu.
·         Jadikan Agenda 21 Indonesia sebagai acuan pembangunan nasional/daerah/kota (kalau perlu ada revisi agenda tersebut)
·         Strategi Pengembangan Wilayah (untuk meningkatkan daya dukung daratan dan lautan) bagi meningkatkan kemakmuran dengan memperhitungkan dinamika atmosfer.
Sebagai catatan, tidak ada satu provinsi pun di Pulau Jawa yang boleh menata ruangnya secara sendiri-sendiri. Butuh keterpaduan antara provinsi-provinsi yang berbatasan langsung maupun tidak langsung.
Pulau Jawa memerlukan satu strategi terpadu dalam menata ruangnya, yaitu bagaimana menangani penduduk yang padat dan bagaimana mendistribusikan penduduk secara merata ke seluruh Indonesia.
Untuk dapat mengurangi penduduk Pulau Jawa minimal 2 juta per tahun, diperlukan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di pulau-pulau besar dan kecil di luar Pulau Jawa, berbasis industri agromaritim. Rencana strategis ini perlu didukung oleh tata ruang terpadu antara pusat dan daerah serta antara darat dan laut untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap lahan di Pulau Jawa. Jika penduduk Jakarta mencapai 17,3 juta pada tahun 1015, bagaimana bentuk penataan Jakarta? Tentang supermegapolitan?
Pengembangan sumber daya energi bersih lingkungan perlu dikembangkan dan diterapkan secara konsekuen, seperti tenaga energi listrik dari surya dan angin.








BAB III
A.    KESIMPULAN
Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara-Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur-Barat (E-W). Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur-Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang
Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian utama (Bemmelen, 1970) yaitu:
§  Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat)
§  Jawa Tengah (antara Cirebon dan Semarang)
§  Jawa Timur (antara Semarang dan Surabaya)
§  Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 – 120 km.
Jenis tanah di pulau jawa adalah tanah vulkanis,tanah humus,tanah alluvial. Kesimpulan Pulau Jawa : Tanahnya subur, kecuali beberapa daerah yang tanahnya terdiri dari tanah kapur. Contohnya Pegunungan Sewu dan Kendeng. kesimpulan indonesia Paling subur pulau jawa. Selain itu Pulau Jawa sebagai pusat perekonomian.
Pada zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo.
Jawa lebih berkembang dibanding dengan kawasan selatan. Kondisi infrastruktur jalan di kawasan Utara Jawa seperti Jalur Pantura telah mampu mengangkat roda perekonomian, aktivitas sosial, dan mobilitas warga masyarakat, sedangkan akibat keterbatasan infrastruktur jalan di  kawasan  selatan Jawa, perkembangan wilayah dan tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah bahkan banyak ditemui daerah-daerah terisolir. Hal ini terbukti dengan adanya kota-kota di kawasan utara yang lebih berkembang, seperti Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan lain-lain.

B.     SARAN
Sebaiknya, bidang-bidang tertentu di pindahkan atau dikembangkan ke daerah lain(di luar pulau Jawa) agar tidak terjadi bencana(karena terlalu banyak bangunan, sehingga peresapan air berkurang oleh karena itu menyebabkan banjir) di pulau Jawa dan demi terwujudnya pemerataan pembangunan.






















  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar